Rabu, 27 Juni 2012

Keadaan Demografi Kependudukan Kabupaten Jombang

Jumlah penduduk Kabupaten Jombang
  • Tahun 2004 adalah 1.160.434 jiwa terdiri dari 572.874 Laki-laki dan 578.560 Perempuan, dengan perincian jumlah penduduk WNI sebesar 1.160.405 jiwa yang terdiri dari 572.866 laki-laki dan 587.539 perempuan, sedangkan jumlah penduduk WNA sebesar 29 jiwa yang terdiri dari 8 laki-laki dan 21 perempuan. 
  • Tahun 2005 adalah 1.163.420 jiwa terdiri dari 574.221 Laki-laki dan 589.199 Perempuan, dengan perincian jumlah penduduk WNI sebesar 1.163.396 jiwa yang terdiri dari 574.216 laki-laki dan 589.180 perempuan, sedangkan jumlah penduduk WNA sebesar 24 jiwa yang terdiri dari 5 laki-laki dan 19 perempuan.
  • Tahun 2006 adalah 1.168.097 jiwa terdiri dari 577.094 Laki-laki dan 591.003 Perempuan, dengan perincian jumlah penduduk WNI sebesar 1.168.074 jiwa yang terdiri dari 577.088 laki-laki dan 590.986 perempuan, sedangkan jumlah penduduk WNA sebesar 23 jiwa yang terdiri dari 6 laki-laki dan 17 perempuan.
  • Tahun 2007 adalah 1.174.059 jiwa terdiri dari 581.544 Laki-laki dan 592.512 Perempuan
  • Tahun 2008 adalah 1.343.379 jiwa terdiri dari 673.262 Laki-laki dan 670.117 Perempuan
  • Tahun 2009 adalah 1.348.199 jiwa terdiri dari 675.584 Laki-laki dan 672.615 Perempuan, dengan perincian jumlah penduduk WNI sebesar 1.348.178 jiwa yang terdiri dari 675.578 laki-laki dan 672.600 perempuan, sedangkan jumlah WNA sebesar 21 jiwa yang terdiri dari 6 laki-laki dan 15 perempuan.
  • Tahun 2010 adalah 1.201.557 jiwa terdiri dari 597.219 Laki-laki dan 604.338 Perempuan ( Menurut Hasil Sensus 2010 BPS )
Penduduk terbesar terdapat di kecamatan Jombang (148.494 jiwa), sedangkan terkecil di Kecamatan Ngusikan ( 22.958 jiwa) pada tahun 2009 

Pertumbuhan penduduk tahun 2007 s/d 2009 meningkat rata-rata 11,01 % pertahun

Investasi Masuk ke Jombang Tembus 6 Trilyun

Investasi besar,  senilai 6 trilyun telah masuk ke Kabupaten Jombang. Ini dilontarkan Bupati Jombang Drs. H. Suyanto MM saat membuka bisnis gathering di hotel Yusro, pada 27 Juni 2012. “Saya baru saja menandatangani Letter Of Intent (LOI) dengan kamar dagang  Taiwan, Korea dengan perusahaan yang  berinvestasi di Jombang”, ungkap  Bupati Suyanto.

Disampaikan Bupati Suyanto bahwa pemerintah Kabupaten Jombang berkomitmen untuk terus  mendorong pertumbuhan ekonomi mikro maupun makro dan memfasilitasinya melalui kegiatan temu usaha umkm, atau bisnis gathering. Terbukti bahwa tahun 2011 angka pengangguran terbuka semakin menurun dan hanya tinggal 4,7 %.

“Untuk mendorong tumbuh kembang umkm  diantaranya membenahi sector perijinan, sehingga seluruh perijinan mempunyai  standarisasi yang jelas dan memiliki kepastian. Selain itu mendorong perbankkan untuk memperbesar landing kredit menengah kebawah, yakni  500 juta kebawah.  Dan kepada perbankan yang mampu menggerakkan ini, pemkab  memberikan reward yang terkait dengan  penempatan dana dana milk pemkab Jombang. Karena kredit ini lah yang  akan menyerap  tenaga kerja lebih besar. Selanjutnya fasilitasi sebaik-baiknya  untuk investasi besar seperti yang baru saja saya tandatangani LOI nya senilai 6 trilyun dengan Taiwan, Korea “, papar Bupati Suyanto.

Di sisi lain, UMKM diharapkan kreatif dan inovatif dalam memproduksi barang, sehingga apa yang dihasilkan diterima pasar. “Jika para pelaku usaha bisa memproduksi barang yang bisa diterima pasar, dampak positifnya juga akan memberi peluang kerja bagi masyarakat sekitar disamping meningkatkan perekomonian,” tutur Bupati Suyanto.

Tidak kurang sekitar 148 UMKM  hadir siang itu mengikuti pemaparan materi terkait Revitalisasi Peran UKM Dalam Menghadapi Daya Saing yang disampaikan oleh Dr. Agung Winarno, MM dari Universitas Negeri Malang. “Dengan Temu Bisnis UMKM kali ini diharapkan bisa menambah wawasan  para pelaku usaha serta mendorong tumbuh kembang ekonomi kreatif di Kabupaten Jombang  ”, tutur Drs. Sustionadi, MSi. Ditambahkan Sustionadi bahwa tanggal  5 sampai 11 Juli mendatang  pemkab Jombang juga akan memfasilitasi umkm dalam Gelar Potensi jombang di Alun Alun Jombang. (Wati_SJAM)

Jombang, 27 Juni 2012
BAGIAN HUMAS

from : jombangkab

Iklim dan Cuaca Kabupaten Jombang


Wilayah Kabupaten Jombang mempunyai letak geografi antara : 5.20° - 5.30° Bujur Timur dan antara :7.20' dan 7.45' lintang selatan dengan luas wilayah 115.950 Ha atau 2,4 % luas Propinsi Jawa Timur.
Keadaan iklim khususnya curah hujan di Kabupaten Jombang yang terletak pada ketinggian 500 meter dari permukaan laut mempunyai curah hujan relatif rendah yakni berkisar antara 1750 - 2500 mm pertahun. Sedangkan untuk daerah yang terletak pada ketinggian lebih dari 500 meter dari permukaan air laut, rata-rata curah hujannya mencapai 2500 mm pertahunnya.
Kabupaten Jombang adalah termasuk yang mempunyai iklim tropis, sedangkan berdasarkan hasil perhitungan menurut klasifikasi yang diberikan oleh Smidt dan Ferguson termasuk tipe iklim D. Dimana tipe ini biasanya musim penghujan jatuh pada bulan Oktober sampai April dan musim kemarau jatuh pada bulan Mei sampai dengan bulan Oktober.


Keadaan geografis Jombang



Luas wilayah kabupaten 115.950 Ha : 1.159,5 Km².

Terletak membentang antara 7.20' dan 7.45' .Lintang Selatan 5.20º - 5.30 º Bujur Timur.

Batas-batas wilayah kabupaten/kota :
 
- Sebelah Utara : Kabupaten Lamongan
- Sebelah Selatan : Kabupaten Kediri
- Sebelah Timur : Kabupaten Mojokerto
- Sebelah Barat : Kabupaten Nganjuk

Administrasi Pemerintahan terdiri dari 21 Kecamatan dan 301 desa, 5 kelurahan.

Kecamatan yang terluas adalah kecamatan Kabuh (13.233 Ha) dan yang terkecil Kecamatan Ngusikan (34,980 Ha).

Curah hujan terbesar antara 1750 s/d 2500 mm pertahun.


  

SEJARAH SINGKAT KABUPATEN JOMBANG


Jombang termasuk Kabupaten yang masih muda usia, setelah memisahkan diri dari gabungannya dengan Kabupaten Mojokerto yang berada di bawah pemerintahan Bupati Raden Adipati Ario Kromodjojo, yang ditandai dengan tampilnya pejabat yang pertama mulai tahun 1910 sampai dengan tahun 1930 yaitu : Raden Adipati Ario Soerjo Adiningrat.
   
Menurut sejarah lama, konon dalam cerita rakyat mengatakan bahwa salah satu desa yaitu desa Tunggorono, merupakan gapura keraton Majapahit bagian Barat, sedang letak gapura sebelah selatan di desa Ngrimbi, dimana sampai sekarang masih berdiri candinya. Cerita rakyat ini dikuatkan dengan banyaknya nama-nama desa dengan awalan "Mojo" (Mojoagung, Mojotrisno, Mojolegi, Mojowangi, Mojowarno, Mojojejer, Mojodanu dan masih banyak lagi).
Salah Satu Peninggalan Sejarah di Kabupaten JombangCandi Ngrimbi, Pulosari Bareng Bahkan di dalam lambang daerah Jombang sendiri dilukiskan sebuah gerbang, yang dimaksudkan sebagai gerbang Mojopahit dimana Jombang termasuk wewenangnya Suatu catatan yang pernah diungkapkan dalam majalah Intisari bulan Mei 1975 halaman 72, dituliskan laporan Bupati Mojokerto Raden Adipati Ario Kromodjojo kepada residen Jombang tanggal 25 Januari 1898 tentang keadaan Trowulan (salah satu onderdistrict afdeeling Jombang) pada tahun 1880.
Sehingga kegiatan pemerintahan di Jombang sebenarnya bukan dimulai sejak berdirinya (tersendiri) Kabupaten jombang kira-kira 1910, melainkan sebelum tahun 1880 dimana Trowulan pada saat itu sudah menjadi onderdistrict afdeeling Jombang, walaupun saat itu masih terjalin menjadi satu Kabupaten dengan Mojokerto. Fakta yang lebih menguatkan bahwa sistem pemerintahan Kabupaten Jombang telah terkelola dengan baik adalah saat itu telah ditempatkan seorang Asisten Resident dari Pemerintahan Belanda yang kemungkinan wilayah Kabupaten Mojokerto dan Jombang Lebih-lebih bila ditinjau dari berdirinya Gereja Kristen Mojowarno sekitar tahun 1893 yang bersamaan dengan berdirinya Masjid Agung di Kota Jombang, juga tempat peribadatan Tridharma bagi pemeluk Agama Kong hu Chu di kecamatan Gudo sekitar tahun 1700.
Konon disebutkan dalam ceritera rakyat tentang hubungan Bupati Jombang dengan Bupati Sedayu dalam soal ilmu yang berkaitang dengan pembuatan Masjid Agung di Kota Jombang dan berbagai hal lain, semuanya merupakan petunjuk yang mendasari eksistensi awal-awal suatu tata pemerintahan di Kabupaten Jombang

From : jombangkab

Stop Global Warning


Perubahan iklim global merupakan malapetaka yang akan datang! Kita telah mengetahui sebabnya - yaitu manusia yang terus menerus menggunakan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti batu bara, minyak bumi dan gas bumi.
Kita sudah mengetahui  sebagian dari akibat pemanasan global ini - yaitu mencairnya tudung es di kutub, meningkatnya suhu lautan, kekeringan yang berkepanjangan, penyebaran wabah penyakit berbahaya, banjir besar-besaran, coral bleaching dan gelombang badai besar. Kita juga telah mengetahui siapa yang akan terkena dampak paling besar - Negara pesisir pantai, Negara kepulauan, dan daerah Negara yang kurang berkembang seperti Asia Tenggara.
Selama bertahun-tahun kita telah terus menerus melepaskan karbondioksida ke atmosfir dengan menggunakan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti batubara, gas bumi dan minyak bumi. Hal ini telah menyebabkan meningkatnya selimut alami dunia, yang menuju kearah meningkatnya suhu iklim dunia, dan perubahan iklim yang tidak dapat diprediksi juga mematikan. Greenpeace percaya bahwa hanya dengan langkah pengurangan emisi gas rumah kaca yang sistematis dan radikal dapat mencegah perubahan iklim yang dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih parah kepada ekosistem dunia dan penduduk yang tinggal didalamnya.
Sebagai sebuah organisasi global berskala internasional, Greenpeace memusatkan perhatian kepada mempengaruhi kedua pihak yaitu masyarakat dan para pemegang keputusan atas bahaya dibalik penambangan dan penggunaan bahan bakar yang berasal dari fosil. Sebagai organisasi regional, Greenpeace Asia Tenggara memusatkan perhatian sebagai saksi langsung atas akibat dari perubahan iklim global, dan meningkatkan kesadaran publik tentang masalah yang sedang berlangsung. Greenpeace SEA juga berusaha mengupayakan perubahan kebijakan penggunaan energi di Asia Tenggara di masa depan - yaitu beranjak dari ketergantungan penggunaan bahan bakar fosil kearah sumber-sumber energi yang terbarukan, bersih dan berkelanjutan.


Taktik Kampanye Iklim dan Energi adalah mengkonfrontasi tantangan yang dimiliki industri berbahan bakar yang berasal dari fosil - terutama, pembangkit listrik pembakar-batubara dan penghasil energi berbasis-nuklir - sementara, di waktu yang sama menyuarakan dan mendorong solusi atas ketergantungan penggunaan bahan bakar yang berasal dari fosil. Sebagai contoh, GreenpeaceSEA mempromosikan kebijakan dan proyek yang dapat menghasilkan energi murah berasal dari angin dan energi matahari, dan advokasi terhadap efisiensi energi alternatif.



Harimau Sumatera Mengaum di Kementrian Kehutanan




Ratusan "Harimau Sumatera" datang ke Jakarta untuk mendorong Kementerian Kehutanan agar menindaklanjuti laporan investigasi Greenpeace mengenai skandal ditemukannya kayu ramin di pabrik pulp dan kertas raksasa, Asia Pulp and Paper.

Klik disini untuk lihat video


Rabu, 18 April 2012

Menyelamatkan hutan kita,
Menyelamatkan juga budaya bangsa

Selama tiga minggu terakhir perusahaan yang menghancurkan hutan alam dan diduga menggunakan kayu Illegal Asia Pulp & Paper (APP) kemungkinan sangat sibuk memindahkan bukti-bukti kayu yang diduga illegal di pabrik Indah kiat ( IKPP) salah satu pabrik terbesar mereka di Propinsi Riau.
Mereka memiliki kesempatan melakukan bersih-bersih seperti itu karena Kementrian Kehutanan Indonesia belum mengambil tindakan untuk menyelidiki bukti penggunaan kayu ramin di pabrik APP yang kami serahkan kepada mereka tiga minggu yang lalu. Ramin merupakan jenis pohon yang terancam punah sehingga pemanfaatannya sangat dibatasi dan diatur dalam hukum internasional dan hukum Indonesia. Ramin biasanya tumbuh subur di lahan gambut yang juga merupakan habitat harimau Sumatera. Kedua spesies yang indah ini sangat terancam karena kegiatan pembabatan hutan salah satunya dilakukan oleh APP.

Sebelum kami memberikan laporan investigasi yang kami lakukan  selama setahun kepada Kementrian Kehutanan. Greenpeace bersama para seniman dan teman-teman yang peduli pada budaya dan hutan Indonesia berkumpul untuk menyaksikan pergelaran keindahan hutan Indonesia yang tersisa bertajuk “Belantara Budaya”,  melindungi masyarakat dan satwa liar yang bergantung pada kekayaan hutan yang telah menginspirasi berbagai macam budaya bangsa.

Kami membuat sebuah video klip yang HARUS kamu lihat dari semangat perayaan kekayaan budaya dan hutan Indonesia yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Video ini sebagai pengingat apa yang kita pertaruhkan sebagai bangsa Indonesia jika tindakan penghancuran yang dilakukan APP tidak dihentikan.

Belantara Budaya kami gelar untuk mengingatkan kepada APP dan Pemerintah Indonesia bahwa suara-suara kekuatan dari semua sektor masyarakat yang telah bergabung dengan Greenpeace untuk melindungi hutan Indonesia dari perusahaan penghancur hutan seperti APP.


Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pendukung acara, para tamu yang datang dan tentunya supporter kami yang menyempatkan waktunya.
From : greenpeace indo
Selamatkan Hutan Indonesia


Keadaan Hutan Sumatra (2010)
Di seluruh dunia, hutan-hutan alami sedang dalam krisis. Tumbuhan dan binatang yang hidup didalamnya terancam punah. Dan banyak manusia dan kebudayaan yang menggantungkan hidupnya dari hutan juga sedang terancam. Tapi tidak semuanya merupakan kabar buruk. Masih ada harapan untuk menyelamatkan hutan-hutan ini dan menyelamatkan mereka yang hidup dari hutan.

Hutan purba dunia sangat beragam. Hutan-hutan ini meliputi hutan boreal-jenis hutan pinus yang ada di Amerika Utara, hutan hujan tropis, hutan sub tropis dan hutan magrove. Bersama, mereka menjaga sistem lingkungan yang penting bagi kehidupan di bumi. Mereka mempengaruhi cuaca dengan mengontrol curah hujan dan penguapan air dari tanah. Mereka membantu menstabilkan iklim dunia dengan menyimpan karbon dalam jumlah besar yang jika tidak tersimpan akan berkontribusi pada perubahan iklim.

Hutan-hutan purba ini adalah rumah bagi jutaan orang rimba yang untuk bertahan hidup bergantung dari hutan-baik secara fisik maupun spiritual.

Hutan-hutan ini juga merupakan rumah bagi duapertiga dari spesies tanaman dan binatang di dunia. Yang berarti ratusan ribu tanaman dan pohon yang berbeda jenis dan jutaan serangga-masa depan mereka juga tergantung pada hutan-hutan purba.

Hutan-hutan purba yang menakjubkan ini berada dalam ancaman. Di Brazil saja, lebih dari 87 kebudayaan manusia telah hilang; pada 10 hingga 20 tahun kedepan dunia nampaknya akan kehilangan ribuan spesies tanaman dan binatang. Tapi ada kesempatan terakhir untuk menyelamatkan hutan-hutan ini dan orang-orang serta spesies yang tergantung padanya.

From : greenpeace indo
ADIWIYATA OH ADIWIYATA

Adiwiyata, sebuah kata yang sudah akrab di telinga insan pencari ilmu di SMAGA JOE. Sebuah status yang layak mendapat apresiasi karena tujuannya mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah untuk melestarikan lingkungan hidup. Selain itu, menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah, sehingga dapat bertanggung jawab dalam kelestarian lingkungan juga menjadi tujuan lainnya.

Adiwiyata sendiri telah mempunyai landasan hukum, yaitu Kep.07/MENLH/06/2005 dan No.05/IV/KB/2005 tentang pembinaan dan pengembangan pendidikan lingkungan hidup serta mengembangkan norma-norma dasar antara lain, norma kebersamaan, keterbukaan, kesetaraan, kejujuran, keadilan, dan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan sumber daya alam. Namun terkadang status tersebut hanya sebatas simbol belaka. Pasalnya, banyak siswa yang masih enggan mengikuti budaya cinta lingkungan tersebut. Misalnya saja, selama ini dalam membuang sampah kita enggan untuk memilah-milah mana yang seharusnya masuk dalam kategori sampah plastik, kertas, maupun sampah organik. Padahal hal tersebut sangat diperlukan dalam proses pengomposan atau pendaur ulangan masing-masing sampah secara optimal. Oleh sebab itu, perlunya menciptakan kesadaran dalam masing-masing pribadi untuk lebih mencintai lingkungan sekitar menjadi salah satu tugas kita dalam mewujudkan tercapainya fungsi dan tujuan program “Adiwiyata”  ini.

Kesadaran masing-masing individu mutlak diperlukan karena jika kita hanya mengandalkan beberapa komponen saja, fungsi dan tujuan program tidak akan tercapai sesuai yang diharapkan. Oleh sebab itu, marilah kita ciptakan kesadaran berbudaya lingkungan ini mulai dari sekarang.Tidak perlu menunggu orang lain yang melakukannya, kita mulai dari diri kita sendiri sehingga orang lain bisa termotivasi oleh tindakan kita.So, Let’s do it right now :)

By : XI IPA 5
 Smaga JOE